Menalar Pemberitaan yang Misleading terkait Temuan Zat Radioaktif di BATAN Indah


Beberapa hari terakhir, masyarakat dikejutkan dengan hasil temuan BAPETEN terkait adanya paparan radiasi di atas ambang batas yang ditemukan di komplek Perumahan BATAN Indah, Serpong, Tangerang Selatan. Merespons temuan tersebut, BATAN dan pihak terkait segera melakukan proses clean up sejak tanggal 12 Februari lalu, serta pemeriksaan Whole Body Counting (WBC) kepada 9 orang warga di sekitar wilayah tersebut.

Paparan tersebut diketahui berasal dari zat radioaktif Cesium-137 ditemukan dalam bentuk serpihan. Anhar Riza Antariksawan selaku Kepala BATAN juga telah mengkonfirmasi bahwa zat radioaktif yang ditemukan bukan berasal dari kebocoran reaktor.

Heru Umbara selaku Kepala Biro Humas BATAN memaparkan bahwa zat radioaktif Cesium-137 umumnya berasal dari kegiatan industri, medis, pertanian dan biologi.

Peristiwa ini tentu tidak luput dari pemberitaan media. Sayangnya beberapa oknum wartawan tampaknya tidak begitu akurat dalam menelurkan berita sehingga dikhawatirkan akan menimbulkan penyesatan informasi yang tidak perlu.

Oleh karena itu, kami mengumpulkan beberapa artikel berisi konten yang misleading sehingga perlu untuk diulas dan dikritisi.

Pohon yang Terpapar Radioaktif Ditebang, Takut Jadi Mutan?

Artikel tersebut ditulis oleh Rakhmad Hidayatulloh Permana [1]. Tulisan sejenis ini sudah menjadi rahasia umum betapa buruknya kualitas jurnalisme di Indonesia. Secara garis besar artikel tersebut hanya berangkat dari dugaan penulis semata.

Penulis sebenarnya telah memperoleh informasi yang benar dari pihak BATAN terkait alasan ditebangnya pohon-pohon tersebut yang tentu sudah seharusnya jadi inti headline dari artikel, alih-alih menggunakan imajinasi liar dari penulis tersebut.

Tak sampai di situ saja, artikel yang diterbitkan oleh DetikNews tersebut kemudian dijadikan acuan informasi oleh harianhaluan(dot)com yang kemudian diadaptasi menjadi artikel berjudul “Takut Seperti Chernobyl, Batan akan Tebang Pohon Terpapar Radioaktif” [2] yang isinya juga tak kalah misleading.

Sesium-137 Picu Kanker dan Mutasi Gen

Tulisan ini diterbitkan oleh Tempo(dot)co [3] yang kemudian diacu oleh Bisnis(dot)com [4] dengan headline yang kurang lebih sama. Benang merah yang ingin disambung oleh penulis cukup jelas: menghubungkan kasus temuan Cs-137 di BATAN Indah lalu disangkut-pautkan dengan bahaya paparan radiasi yang disebabkan oleh zat radioaktif tersebut.

Secara garis besar, informasi yang diperoleh dari hasil wawancara dengan dr. Ryan Yudistiro, Sp.KN M.Kes tersebut sebenernya memberikan wawasan bagi pembaca. Sayangnya, informasi tersebut menjadi rancu mengingat kadar Cesium-137 yang ditemukan di Perumahan BATAN Indah memiliki laju paparan yang rendah yakni sebesar 149 mikro sievert per jam.

Berdasarkan pemaparan Djarot Wisnubroto, dengan besaran dosis tersebut tentu tidak akan menimbulkan kanker. Potensi kanker akan meningkat sebesar 5% apabila terpapar pada tingkat paparan 1000 mSv (mili sievert). Seharusnya informasi tersebut juga perlu untuk dicantumkan agar informasi yang tersebar di masyarakat tidak perlu melebar terlalu jauh.

Cs 137 Diduga Cemari Batan Indah, Sama Seperti Unsur Nuklir Chernobyl

Well, artikel selanjutnya yang akan kita bahas masih produk jurnalistik dari Detiknews [5] kali ini ditulis oleh Danu Damarjati. Pada awalnya saya mengira artikel ini hanya bait pada bagian judul, namun dugaan saya salah.

Entah apakah ini bisa dibilang penggiriangan opini atau tidak, tapi saya bertanya-tanya apa motivasi penulis mengaitkan unsur Cs-137 yang ditemukan di BATAN Indah dengan unsur radioaktif hasil fusi dari kecelakaan Chernobyl? Kenapa harus jauh-jauh membahas Chernobyl jika secara faktual unsur Cs-137 juga sangat banyak ditemukan di rumah sakit dan komplek industri?

Artikel misleading semacam ini bisa menggiring opini publik. Karena seperti yang kita ketahui bahwa lokasi temuan zar radioaktif Cs-137 berada tidak jauh dari reaktor riset G.A. Siwabessy. Tak heran jika Kepala BATAN segera meluruskan informasi tersebut kepada media.

Tidak Perlu Menyebarkan Kecemasan

Berkaca dari beberapa kasus kecelakaan radiasi yang pernah terjadi, umumnya kerugian terbesar yang dialami masyarakat justru bukan berasal dari bahaya radiasi itu sendiri melainkan akibat dari kecemasan dan kepanikan yang timbul dari tidak terbendungnya informasi yang tidak akurat dan menyesatkan.

Kita bisa ambil contoh kasus aborsi massal yang terjadi pasca kecelakaan Chernobyl. Peristiwa tersebut terjadi lantaran tersebar informasi terkait bahaya radiasi yang melanda para ibu hamil yang khawatir kelak akan melahirkan bayi cacat yang mana pada akhirnya informasi tersebut telah dibantah oleh para ilmuwan.

Untuk itu, sangat penting bagi para wartawan untuk senantiasa berhati-hati dalam melakukan framing pada peristiwa semacam ini. Sementara itu keterbukaan informasi dari BATAN, BAPETEN dan pihak-pihak terkait juga sangat diperlukan dalam menangani kasus semacam ini sehingga masyarakat bisa memperoleh informasi yang benar dan akurat.

Dan saran saya untuk kita para pembaca dan masyarakat juga perlu kritis atas pemberitaan yang dirasa misleading. Salah satu usaha kita yakni dengan cara meninggalkan komentar untuk meluruskan informasi tersebut dan/atau juga bisa menegur pihak redaksi media untuk merevisi atau menurunkan artikel tersebut.

Untuk menutup tulisan ini, saya menukil potongan tulisan Wisnu Prasetya pada bab pembuka buku “Karena Jurnalisme Bukan Monopoli Wartawan”: jurnalisme mesti dirawat dengan kritik. Bukan untuk mengerdilkan jurnalisme itu sendiri, sebaliknya, untuk menjaga martabat jurnalisme dan kebebasan pers.

Sekian. Terima kasih.

Sumber:
[1] https://news.detik.com/berita/d-4902476/pohon-yang-terpapar-radioaktif-ditebang-takut-jadi-mutan (Diakses pukul 17:31 tanggal 20 Februari 2020).
[2] https://www.harianhaluan.com/news/detail/87052/takut-sepertichernobyl-batan-akan-tebang-pohon-terpapar-radioaktif (Diakses pukul 18:12 tanggal 20 Februari 2020).
[3] https://koran.tempo.co/read/ilmu-dan-teknologi/450303/sesium-137-picu-kanker-dan-mutasi-gen (Diakses pukul 18:23 tanggal 20 Februari 2020).
[4] https://lifestyle.bisnis.com/read/20200219/106/1203305/bukan-hanya-kanker-cek-di-sini-efek-paparan-radioaktif-cesium-137 (Diakses pukul 18:18 tanggal 20 Februari 2020).
[5] https://m.detik.com/news/berita/d-4900223/cs-137-diduga-cemari-batan-indah-sama-seperti-unsur-nuklir-chernobyl/2 (Diakses pukul 18:49 tanggal 22 Februari 2020).

Penulis: Dimas

Posting Komentar

0 Komentar